Pagi yang tenang di Desa Patalan, Kecamatan Jatis, Bantul Yogyakarta, 27 Mei yang lalu tiba-tiba berganti dengan kepanikan. Gempa berkekuatan 5,9 skala richter menggoyang desa itu. Daerah Istimewa Yogyakarta bagian Selatan dan sebagian wilayah di Jawa Tengah juga merasakan bencana yang sama.
Efek dari gempa ini sangat dahsyat. Ribuan orang meninggal dunia, korban yang selamat dari gempa juga banyak yang mengalami luka parah. Selain itu, pemukiman, sarana ibadah, kantor pemerintahan, pasar, dan bangunan lain roboh diguncang gempa. Bencana ini tentu menimbulkan kepedihan bagi semua.

Bencana alam memang tidak dapat dihindarkan. Tapi bukan berarti kerugian tidak bisa ditekan. Bandingkan jika sebelum gempa datang, pagi yang tenang di Desa Patalan itu, diramaikan oleh pengeras suara yang memberi aba-aba hitungan mundur kapan gempa akan terjadi. Akan lebih banyak waktu untuk bersiap-siap, membangunkan anak yang sedang tidur, memapah orang tua ke tempat yang aman, juga membawa peralatan secukupnya.

Hitungan mundur menjelang gempa? Apa mungkin? Mungkin saja. Di tengah derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebuah sistem peringatan dini bisa diciptakan. Sebuah sistem yang dapat memprediksikan terjadinya gempa. Selanjutnya sistem itu akan memberi peringatan dini pada masyarakat di wilayah gempa. Masyarakat pun bisa siaga dan menyelamatkan diri. Kerugian besar yang harus ditanggung semestinya bisa dikurangi. Sistem peringatan dini ini juga bisa mengurangi korban yang meninggal dunia.

Internet dan seluler

Sistem peringatan dini bukanlah satu hal baru. California dan Meksiko telah mengaplikasikan sistem ini. Di beberapa negara, seperti Jepang, juga telah dikembangkan sistem peringatan dini yang memanfaatkan internet dan teknologi seluler. Japan Electronics and Information Technology Association (JEITA) menggunakan informasi yang mereka peroleh lewat internet. Informasi tadi bersumber dari Japan Meteorological Agency (JMA) dan jaringan sensor gempa yang tersebar di seluruh negeri.

Komputer di JMA akan menganalisa data dari pusat gempa yang akan terjadi. Getaran langsung dari titik episentrum ini menjadi dasar bagi JMA untuk memprediksi wilayah yang akan diguncang gempa. Tidak hanya itu, JMA juga bisa menganalisis berapa kekuatan gempa yang akan terjadi.

Setelah informasi itu diterima, sistem pemberitahuan akan mengeluarkan peringatan. Sistem akan melakukan hitungan mundur sampai ke beberapa detik sebelum gempa terjadi. “Anda dapat mengemasi barang yang diperlukan dan menyelamatkan diri, kalau waktu yang tersisa sangat terbatas paling tidak Anda bisa berlindung di bawah meja atau mencari tempat aman di dalam rumah,” tutur Shinya Tsukada, Departemen Seismologi dan Vulkanologi JMA.

Sistem peringatan dini untuk sebuah negara pelanggan gempa seperti Jepang adalah merupakan sebuah faktor yang harus dipenuhi. Setiap tahun, Negeri Matahari Terbit ini kedatangan lebih dari seratus gempa. Sekitar 20 persen gempa di dunia yang berkekuatan Magnitude 6 terjadi di Jepang.

Dengan memanfaatkan 200 stasiun sensor, JMA dapat memperkirakan titik episentrum gempa dalam waktu 2 detik. Sistem ini sudah diuji coba pada Oktober 2004. Uji coba ini belum sepenuhnya berhasil.

Bulan Agustus tahun lalu, saat wilayah Miyagi digoyang gempa, JMA telah menemukan titik gempa sekitar 60 mil di laut. Sistem ini memiliki waktu sekitar 16 detik untuk memberi peringatan sebelum getaran gempa itu sampai ke Sendai, kota yang padat penduduk. Saat ini, para peneliti juga tengah melihat kemungkinan ponsel dapat menerima peringatan gempa itu. Kendala yang kerap terjadi adalah ketika terjadi gempa ponsel justru tidak dapat digunakan.

NTT DoCoMo menyodorkan satu solusi yaitu dengan bulletin board yang bisa diakses lewat ponsel. Bulletin board ini juga terhubungkan antara satu operator seluler yang satu dengan yang lain, sehingga dapat diakses oleh lebih banyak lagi pengguna ponsel.

Sistem peringatan Tsunami

Tidak hanya gempa yang harus diwaspadai. Anda pasti masih ingat bencana tsunami pada 26 Desember 2004 yang menimpa wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Bencana ini juga menyapu wilayah Srilanka, Thailand, India, Malaysia, Bangladesh, Maladewa, Myanmar, juga ke beberapa negara Afrika Timur seperti Somalia, Tanzania dan Kenya.

Sebagai salah negara yang mengalami dahsyatnya tsunami, Thailand kini mengembangkan Tsunami Alert System (TAS). Sistem yang dikembangkan oleh Asian Institute of Technology (AIT) ini juga menggunakan ponsel sebagai media penyebaran peringatan jika terjadi tsunami.

Anggota yang sudah tergabung dalam TAS harus melakukan aktivasi. Caranya bisa dengan membalas pesan atau mengirim e-mail ke webmaster TAS. Setiap 3 bulan sekali, pesan test reguler akan dikirimkan ke nomor-nomor anggota. Untuk melanjutkan keanggotaannya, anggota harus merespon pesan test reguler itu.

Pesan peringatan akan dikirimkan jika terjadi tanda-tanda gempa. Gempa dengan kekuatan lebih dari 6,5 Skala Richter akan dikirimkan lebih dulu ke 3 orang ahli vulkanologi dulu. Ketiga ahli ini akan mengecek kebenarannya. Jika gempa tersebut bisa menimbulkan tsunami, sebuah pesan peringatan akan sampai ke anggota TAS. Kabar baiknya lagi adalah sepanjang dana untuk proyek ini tidak dihentikan, keanggotaan TAS ini tidak dipungut biaya.

Melihat apa yang dilakukan negara tetangga, rasanya langkah serupa juga perlu diambil oleh Indonesia. Agar satu saat nanti, tidak ada lagi ribuan korban yang jatuh akibat gempa. (Trendigital)

Iklan