SUMEDANG (SINDO) – Sebuah sel dan makam misterius menarik perhatian (Pjs) Rektor IPDN Johanis Kaloh saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, kemarin. Johanis,yang menggantikan I Nyoman Sumaryadi pascatragedi tewasnya praja Cliff Muntu,sempat terkejut ketika melihat ruangan berjeruji besi ukuran 2×4 meter tinggi 3 meter di kantor Pos Pengamanan Dalam (Pos PAM) Kampus IPDN.Dia mengaku heran dengan keberadaan sel di kampus yang sedang jadi sorotan publik tersebut. ”Sebetulnya, apa fungsi sel di dalam Pos PAM ini? Jawab saja dengan jujur agar masyarakat tahu. Jangan ada yang ditutup-tutupi,” tanya Johanis kepada Kepala Bagian (Kabag) Kesatriaan Kampus IPDN,Murdiyana. Johanis juga menanyakan, apa pernah sel ini digunakan untuk menahan praja yang terbukti melanggar aturan sebelum diserahkan kepada pihak berwajib. Muryana membantah sel itu pernah digunakan untuk menahan praja yang terbukti bersalah.

Dia menjelaskan,saat ini sel tersebut berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang dan kadangkadang dipakai untuk tempat salat dan tidur petugas jaga. ”Setahu saya, sel itu sudah ada sejak tahun 1998. Saya memang baru menjadi Kepala Kesatriaan IPDN pada awal Januari lalu, tapi sepanjang yang saya tahu tidak ada praja yang dimasukkan ke dalam sel ini kalau bersalah.Kalau sebelumnya, saya tidak tahu,” jawab Muryana.Namun,salah seorang anggota tim perencanaan pembangunan Kampus IPDN, Ir Priyo Susilo, menjelaskan, sel di Pos PAM IPDN memang pernah digunakan untuk menghukum praja, yakni saat Rektor IPDN masih dijabat IGK Manila pada 1997.

Menurut Priyo, saat itu, praja yang membuat onar langsung dimasukkan ke dalam sel sebagai bentuk hukuman. ”Daripada dipukuli, kan lebih baik dimasukkan ke dalam sel,” ujarnya. Priyo menjelaskan, pada zaman IGK Manila pernah ada kasus beberapa praja ketahuan berbuat onar dengan mabuk-mabukan. Kemudian, mereka dimasukkan ke dalam sel untuk beberapa hari agar jera.”Tapi sekarang itu tidak pernah dilakukan lagi,”kata Priyo kepada SINDO,kemarin. Muryana menjelaskan, tugas Pos PAM hanya mengamankan wilayah Kampus IPDN seluas 280 hektare tersebut. Sedangkan persoalan praja, diserahkan langsung kepada pengasuh.

Jika ada praja terbukti bersalah, petugas Pos PAM tidak memiliki kewenangan menghukumnya, apalagi sampai dimasukkan ke dalam sel. Kalau ada praja nakal dan ketahuan, kata dia, petugas Pos PAM langsung menyerahkan kepada pengasuh yang berwenang terhadap mereka.Secara kasat mata, sel tersebut memang benar- benar persis sel yang biasa dilihat di kantor kepolisian.Pintunya terdiri atas sejumlah besi yang dipasang vertikal. Sekitar satu meter di depan pintu sel, berdiri sebuah meja, lengkap dengan mesin tik yang biasa digunakan kepolisian menulis Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Seluruh dindingnya berwarna putih, sementara lantainya dipasangi keramik warna putih. Meski mirip dengan yang ada di kantor polisi, sel di Kampus IPDN tidak terlihat kumuh. Di dalam sel, terdapat dua buah kasur busa tanpa seprei yang ditumpuk rapi. Selain itu,terdapat pula satu buah meja,satu buah lemari kecil,tumpukan kertas bekas,dan tumpukan kardus. Sementara itu, mantan Gubernur Praja Dino Aries Fahrizal mengaku tidak tahu-menahu tentang fungsi sel yang ada di Pos PAM. Dino juga mengaku tidak pernah mendengar dan melihat praja dimasukkan ke dalam sel tersebut selama dia di Kampus IPDN. ”Saya tahu keberadaan sel itu, tapi tidak tahu fungsinya. Yang saya tahu juga, selama kuliah di IPDN, belum ada praja yang masuk sel itu,” kata mahasiswa IPDN tingkat IV (wasana praja) ini kepada SINDO,kemarin.

Makam Misterius

Selain mengunjungi sel di Pos PAM IPDN, Johanis juga sempat melihat sejumlah makam misterius yang terletak di belakang Kamar Sakit Asrama (KSA). Sempat beredar kabar,makam tersebut merupakan makam praja IPDN yang menjadi korban kekerasan. Namun, kabar itu dibantah Kasubag Kerohanian IPDN Ahmad Marzuki. Menurut Ahmad, makam di lingkungan kampus merupakan makam dosen,orangtua dosen,dan anaknya yang masih bayi.

Selain itu, lanjut dia, di beberapa lokasi juga terdapat makam kuno milik masyarakat setempat.Ahmad menjelaskan, makam tersebut sudah ada sejak 1989 atau 1990 lalu. ”Saya berani sumpah kalau di sini tidak ada makam praja. Jadi, kabar mengenai adanya makam praja di Kampus IPDN itu tidak benar. Coba cek nama-nama pada makam itu,” kata Ahmad kepada wartawan,kemarin. Pantauan SINDO, makam tersebut berada di dekat jurang dan dikelilingi semak-semak. Terdapat lima makam yang jaraknya berdekatan. Pada batu nisan tercantum nama-nama jenazah yang dimakamkan di antaranya Dana Ulung binti Murtada, wafat pada 14-10-2002, Khadijah binti Kahar Kaskilla lahir di Maluku Tengah 1921 dan wafat di Jatinagor 2001.

Pada batu nisan dua makam lain tertulis nama M Djalil bin Ismail, lahir di Pidie 1928 dan wafat 16 Ramadhan 1424, dan drs Tajudin Manangkari, lahir di Luwuk 12 Oktober 1944, wafat pada 3 Agustus 2001. Satu makam lainnya terlihat lebih pendek, yang menurut Ahmad, merupakan makam anaknya yang meninggal saat masih bayi. Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta agar semua pihak tidak melakukan gerakan tutup mulut (GTM) mengenai apa sebenarnya yang terjadi di IPDN.Semua pihak diminta bekerja sama dengan tim yang dibentuk pemerintah bisa menemukan solusi problem di IPDN. ”Saya minta untuk dibuka aksesnya lebar-lebar, jangan ada GTM atau gerakan tutup mulut di IPDN,”tegas Presiden seusai mengunjungi perkebunan durian Warso di Bogor, kemarin. (gin gin tigin g/rudini/rommy roosyana/ nurmayanti)

Iklan