Jakarta, PT Telkom Tbk dituding punya maksud terselubung bila tetap meneruskan rencananya merubah sistem perhitungan tarif telepon lokalnya yang semula berbasis pulsa menjadi menit. Dikuatirkan, tarif telepon bakal naik gila-gilaan.
Demikian pernyataan Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia (KNTI). Rencana perubahan sistem perhitungan tarif yang diusulkan Telkom dinilai akan membuat tarif percakapan lokal menjadi lebih mahal, naik 50% ketimbang sebelumnya.

“Tentu saja kenaikan itu bakal merugikan publik. Sementara di sisi lain Telkom akan sangat diuntungkan karena 60% pendapatan telepon tetapnya berasal dari komunikasi lokal,” ujar pendiri KNTI, Srijanto Tjokrosudarmo.

Tudingan itu langsung ditampik pihak Telkom. “Tidak ada kenaikan terselubung, tetapi yang ada hanyalah penyederhanaan,” tegas Eddy Kurnia, VP Corporate & Marketing Communication PT Telkom Tbk, ketika dikonfirmasi detikINET, Rabu (18/4/2007).

Menurut Eddy, sistem penghitungan tarif sudah dipertimbangkan secara masak. “Ini justru akan memudahkan dan menguntungkan pengguna percakapan lokal, sebab tak ada lagi pembatasan timeband (waktu) dan zona (jarak),” tambahnya.

Hitung-hitungan Tarif

“Tudingan KNTI bukan tanpa sebab,” ujar Srijanto. Ia mengatakan, KNTI telah mempelajari terlebih dahulu rencana perubahan perhitungan tarif yang diusulkan Telkom kepada Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) sebelum melontarkan tudingan.

Dijelaskannya, dalam sistem berbasis pulsa saat ini, tarif percakapan lokal pada malam hari sebesar Rp 250 per pulsa dengan durasi pemakaian selama tiga menit. Sementara dalam rencana penghitungan baru berbasis menit, lanjut Srijanto, percakapan selama tiga menit menjadi Rp 375, dengan penghitungan Rp 250 untuk dua menit pertama dan Rp 125 untuk tiap menit berikutnya, tanpa membedakan lokasi dan waktu menelepon. “Tarif percakapan ini yang membuat 50% lebih mahal,” cetus Srijanto.

Di lain pihak Eddy mengatakan, dengan satuan pulsa, maka satu pulsa pada percakapan di siang hari sangat berbeda dengan satu pulsa di malam hari karena durasi waktu yang menjadi pembaginya juga berbeda yakni 3 menit, 2 menit, atau 1,5 menit. “Perhitungan tarif berdasarkan menit juga akan lebih memudahkan pelanggan dalam mengendalikan anggaran komunikasinya,” tukas Eddy.

Eddy menjelaskan, Telkom bermaksud mempermudah pelanggan telepon lokal untuk berkomunikasi dengan tarif flat, yang artinya tidak mengenal batasan jarak dan waktu. “Akan membuat tarif percakapan lokal antara lokasi manapun di waktu-waktu sibuk lebih murah,” ia menambahkan.

“Justru itu yang jadi masalah. Bagi pengguna telepon di perkantoran mungkin tidak ada masalah, karena tagihannya dibayar kantor. Sementara bagi pengguna rumahan, menelepon pada malam hari merupakan alternatif untuk berkomunikasi dengan tarif yang lebih murah,” tandas Srijanto.

Diminta Obyektif

Sementara Eddy memberikan pandangan lain soal keuntungan tarif berbasis menit. Dengan pemberlakuan tarif flat Rp 125 per menit setelah dua menit pertama, menurut dia, pengguna Internet melalui koneksi dial up, akan lebih leluasa untuk mengakses Internet kapan pun, termasuk pada jam-jam sibuk.

“Artinya, mereka tidak perlu lagi menunggu waktu-waktu di luar jam sibuk (off peak) untuk melakukan koneksi Internet karena tarifnya sama saja, Rp 125 per menit (setelah dua menit pertama-red),” ujarnya.

Keuntungan lainnya, menurut Eddy, dengan diberlakukannya perhitungan tarif berbasis menit, seluruh pemakaian telepon dapat direkam, termasuk untuk percakapan lokal. “Selama ini, print out pemakaian hanya bisa dikeluarkan untuk percakapan SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh). Dengan demikian, kini besarnya tagihan yang muncul dapat diverifikasi (auditable) oleh pelanggan,” ia menjelaskan.

“Jadi tolong dong dilihat secara fair dan obyektif,” ujar Eddy menanggapi tudingan KNTI. Apalagi, tandasnya, diberlakukan atau tidak usulan perhitungan tarif telepon lokal berbasis menit, yang menentukan adalah regulator atau pemerintah. Bagaimana, menurut Anda?(rou/wsh)

Iklan